Siapa Sebenarnya Syaikh Aidh Al-Qarni

AID-AL-QARNI

Pria kelahiran Arab Saudi tahun 1379 H (1960 M) ini dapat dikatakan penulis Islam terlaris dan paling ditunggu buku-buku barunya oleh kaum Muslimin saat ini, termasuk di Indonesia. Buku monumentalnya “Laa Tahzan” kini telah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa dunia itu telah terjual lebih dari 120 ribu eksemplar dalam edisi bahasa Arabnya saja. Belum terhitung berapa jumlah buku yang terjual dalam bahasa yang lain.

Mungkin masih belum banyak yang tahu detail tentang profil ulama besar Saudi ini. Selain aktif dalam dunia tulis menulis, ternyata Syaikh Dr Aidh al-Qarni adalah figur yang telah menghasilkan 800 keping kaset keislaman yang berisi khutbah, ceramah, puisi dan seminar ilmiah. Bukan hanya hafal Al-Qur’an, ia juga hafal Bulugh al-Marham, sekitar lima ribu hadist dan lebih dari 10 ribu bait syair. Buku karangannya meliputi hadist, tafsir, fikih, sastra, sejarah dan biografi. Berikut biografi selengkapnya tentang beliau.

Tokoh yang bernama lengkap Dr.’Aidh bin ‘Abdullah bin ‘Aidh Al Majdu al-Qarni ini lahir di desa Qarn, Arab Saudi bagian selatan tahun 1379H. Nama Al-Qarni diambil dari daerah asalnya tersebut, Al-Qarn. Pada tahun 1403/1404H, ia meraih gelar sarjana dari Fakultas Ushuluddin Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyyah, gelar magister dalam bidang hadist ia capai tahun 1408H, sedangkan gelar doktor diperolehnya dari Universitas yang sama pada tahun 1422H.

Ia berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, Abdullah al-Qarni, adalah seorang tokoh masyarakat di daerah asalnya. Sejak kecil sang ayah sudah membawa Al-Qarni ke masjid untuk shalat berjamaah. Sang ayah juga telah memperkenalkan berbagai macam buku bacaan sejak Al-Qarni masih kanak-kanak. Karenanya, ia sudah terbiasa dengan bacaan sejak kecil.

Ia menuntut ilmu di Madrasah Ibtidaiyah Ali Salman. Setelah lulus, dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Ma’had Ilmi sejak bangku SMP, hingga meraih gelar kesarjanaan (Lc) dari Fakultas Ushuluddin di tahun 1404 H dan gelar Magister dalam bidang hadits tahun 1408 H dengan tesis berjudul “Al-Bid’ah wa Atsaruha fi ad-Dirayah wa Ar-Riwayah” (Pengaruh Bid’ah terhadap Ilmu Dirayah dan Riwayah Hadits).

Gelar Doktornya dalam bidang hadits diraih dari Al-Imam Islamic University, Riyadh, pada tahun 1422 H. Saat itu ia mengajukan disertasi berjudul “Dirasah wa Tahqiq Kitab Al-Mahfum Ala Shahih Muslim li Al-Qurthubi” (Studi Analisis Kitab Al-Mahfum Ala Shahih Muslim Karya Al-Qurthubi).

Aktivitas Al-Qarni boleh dibilang tidak jauh dari kegiatan membaca dan menulis. Bahkan, ketika mendekam dalam penjara, dua aktivitas inilah yang membuatnya sibuk. Ia menguasai hafalan Alqur’an dan kitab Bulughul Maram serta 5.000 hadits, dan lebih dari 10.000 bait syair Arab kuno hingga modern pada usia 23 tahun. Kecerdasannya itu mengantarkan Al-Qarni sebagai penulis produktif dan penceramah populer.

dr-aaidh-al-qarni-2427-l

Selama 29 tahun dia mengarungi dunia dakwah, kaset-kaset ceramahnya telah beredar dan berkumandang di sejumlah masjid, yayasan, universitas dan sekolah di berbagai belahan dunia. Sekitar 1.000-an judul kaset yang berisi ceramah agama, kuliah, serta kumpulan puisi dan syair karyanya telah dipublikasikan.

Kitab-kitab karyanya yang berjumlah lebih dari 70 buah itu telah pula diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Al-Qarni juga dikenal sebagai tokoh pembaruan di Arab Saudi dan berani menyuarakan kebenaran. Keberaniannya menyuarakan kebenaran ini sempat membuatnya merasakan jeruji besi pemerintah Al-Saud. Ia mendekam dalam penjara selama 10 bulan pada 1996.

Kesalahannya saat itu, ia bersama beberapa orang ulama muda Saudi lainnya berani berteriak lantang menentang kehadiran pasukan Amerika Serikat di Arab Saudi atas undangan pemerintah Al-Saud. Sikap para ulama ini ditunjukkan melalui bait-bait syair yang mereka terbitkan, meski hal itu termasuk bukan hal yang bermasalah oleh sebagian ulama lainya.

Salah satu pihak yang mengecam beliau adalah beberapa ulama Saudi yang menyatakan bahwa beliau memiliki pemikiran yang berbau Khawarij yang dinilai sebagai prilaku melawan pemerintah, dan kesalahan lainya. Atas beberapa tuntutan itu, akhirnya beliau mendekam di penjara kerajaan Saudi selama beberapa bulan.

Ayah dari tiga putera dan enam puteri ini kemudian ditempatkan di sebuah penjara khusus. Dalam sebuah wawancara dengan harian Republika beberapa tahun lalu, Al-Qarni mengungkapkan bahwa selama dipenjara ia banyak membaca buku tentang musibah dan problematika manusia, pembunuhan serta hubungan bapak dan ibu atau hubungan anak dan orangtua.

Ia terinspirasi untuk memberikan solusi pada orang-orang yang tertimpa masalah tersebut melalui tulisan. Berawal dari sinilah karyanya yang fenomenal Laa Tahzan tercipta. Berlembar-lembar tulisan pun menjadi bukti ketekunannya dalam menjalankan hari-harinya di penjara. ”Sekitar 100 halaman pertama saya tulis di penjara,” tuturnya.

Aidh-Al-Qarni

Setelah keluar dari penjara, Aidh Al-Qarni melanjutkan tulisannya. Untuk menyelesaikan lembar-lembar itu, dia membutuhkan referensi 300 judul buku dalam berbagai bahasa. Hingga akhirnya, lahirlah buku Laa Tahzan yang diterjemahkan menjadi Jangan Bersedih dalam edisi Bahasa Indonesia.

Ia menyusun Laa Tahzan selama tiga tahun dan mengeditnya tiga kali setiap menulis satu bagian buku. Hasilnya sungguh fenomenal. Buku yang sudah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa dunia ini telah diterbitkan oleh puluhan penerbit dan mencapai angka penjualan fantastis. Di negara asal penulisnya, Arab Saudi, hingga triwulan pertama tahun 2006 buku itu sudah dicetak kurang lebih 1,5 juta eksemplar. Di Indonesia, buku ini juga sempat menjadi buku terlaris.

Kelebihan buku Al-Qarni terlihat pada bahasan-bahasannya yang fokus, penuh hikmah, dan selalu memberi jeda untuk merenung sebelum berlanjut pada bahasan berikut. Dalam bukunya pula, Al-Qarni mengajak pembaca agar tidak menyesali kehidupan, tidak menentang takdir, atau menolak dalil-dalil dalam Alquran dan sunah.

Al-Qarni tidak menduga Laa Tahzan akan laris. Ia hanya berdoa setiap kali umrah di Makkah, agar diberi kemampuan menulis sebaik-baiknya. Ketika buku itu terbit untuk pertama kalinya, ia hanya mendapat 10 persen dari penjualan Laa Tahzan. Karena saat itu buku karyanya banyak yang dicekal. Namun, berkat keikhlasan itulah Laa Tahzan dicetak dalam jumlah besar dan bertambah laris. Laa Tahzan menyebar di mana-mana. Di Indonesia sendiri buku ini banyak dicetak tanpa izin darinya.

Laa Tahzan meledak hampir di seluruh negara yang penduduk mayoritasnya Islam. Tetapi, Al-Qarni tidak menerima uang lagi dari bukunya itu. Mengenai ini ia tidak ingin melakukan apa-apa. Ia hanya menyerahkan semua kepada Allah. Ia pun mengaku tidak menyesal atas keputusannya itu. Ia tetap merasa kaya. Berkat doa umat Islam, ia menjadi semakin terkenal. Laa Tahzan telah memberi banyak manfaat pada umat manusia. Hal itulah yang paling membahagiakan al-Qarni.

Karya-karyanya

Selain Laa Tahzan, Al-Qarni juga menulis sejumlah buku yang menjadi ‘best seller’. Di antaranya 30 Tips Hidup Bahagia, Berbahagialah: Tips Menggapai Kebahagiaan Dunia Akhirat, Menjadi Wanita Paling Bahagia, Ramadhankan Hidupmu, Tersenyumlah: Jangan Putus Asa, dan Jangan Berputus Asa.

Karya Al-Qarni yang juga terbilang sukses di Indonesia adalah Jagalah Allah, Allah Menjagamu; Majelis Orang-Orang Saleh; Cambuk Hati; Bagaimana Mengakhiri Hari-Harimu; Berbahagialah; Power of Love; Al-Azahamah, Keagungan; Menakjubkan!; Jadilah Pemuda Kahfi; Mutiara Warisan Nabi SAW; dan Gerbang Kematian.

Karya-karyanya yang lain adalah Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Sumber Inspirasi Orang Saleh, 40 Hadits Qudsi dan Zikir, Membangun Rumah dengan Taqwa, Cahaya Pencerahan, Cahaya Zaman, Jangan Takut Hadapi Hidup, Demi Masa, Beginilah Waktu Mengajari Kita, Nikmatnya Hidangan Alqur’an, dan Manusia Langit Manusia Bumi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s